BAHKAN MENGUCAPKAN “SELAMAT TINGGAL…” PUN TAK SEMPAT
Pagi itu, cuaca sangat dingin. Subuh telah berganti mentari yang
perlahan naik ke permukaan langit yang luas. Tapi mentari itu sedikit
bersembunyi dari gumpalan awan gelap yang membuat pemandangan fajar menjadi
monokrom tak bermakna. Pagi ini sedikit suram. Lantas gadis itu menutup kembali
jendelanya dan tak ingin mendengar awal cerita dari sang pagi. Terbangun dengan
lemas dengan mata yang masih sayup – sayup yang ingin menutup. Tapi perutnya
sudah bergema layaknya nyanyian yel – yel aliansi mahasiswa yang sedang turun
aksi. Kepalanya tertoleh kanan dan kiri dan tak melihat siapapun di dapur.
Mungkin saja orang – orang kembali tidur dan tak menyapa pagi. Lagipula ini
juga hari Minggu. Hari dimana waktu istirahat lebih panjang dari biasanya.
Gadis itu lantas duduk di meja makan sendirian sambil meneguk air putih untuk
asupan awal yang masuk ke perut setelah bangun tidur. Matanya sudah lebar dan
badannya mulai terbangun tanpa lemas. Diambilnya gelas beling dan 3 sendok
makan susu bubuk rasa full cream dan air hangat dari termos untuk
menjadi teman santainya pagi ini di meja makan.
Masih hening. Tak ada yang menyaut.
Tok tok tok…
Matanya tertuju
pada pintu ruang tamu. Terdengar suara ketukan dari luar yang ingin dibukakan
pintu. Badannya terpaksa bangkit dari nyamannya duduk di kursi meja makan.
Langkahnya perlahan menuju pintu ruang tamu sambil mengintip sosok yang
mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok…
“Euis, buka pintu, nak”. Suara itu mirip ibu, mungkin ibu.
“Teteh…” Suara Putri menyambung setelah suara ibu.
Euis membuka pintu dan dilihatnya ibu, ayah, dan adiknya yang habis
berbelanja ke pasar menenteng kresek berisi sayur, buah, dan jajanan Putri, dan
lainnya.
“Kirain masih pada tidur, pantas saja rumah sepi”. Saut Euis yang
mengira mereka semua masih tidur.
Ibu dan Putri langsung masuk ke rumah sedangkan ayah masih asyik
duduk di teras sambil melihat – lihat pemandangan depan rumah.
“Tumben kamu nggak menyapa pagi, nak”. Kata ayah yang lagi
memainkan jenggot panjangnya.
“Pagi sedang tidak bersahabat, yah. Suasananya tampak suram. Awan
gelap datang menghancurkan sinar fajar yang indah. Malas saja, jika harus
melihat pemandangan abu – abu yang sendu di pagi hari. Tidak semangat rasanya”.
Jawab Euis yang duduk disebelah ayahnya.
Pagi itu memang sangat mendung, tapi hujan tak lekas turun. Apa ini
hanya awan gelap yang menetap tanpa mengahadiri hujan di bumi atau sekedar
singgah untuk mencoba merasakan pagi? Sayangnya, Euis tak peduli mengapa awan
gelap itu datang di pagi hari yang cerah sedangkan ia harus menikmati fajar
setelah bangun dari tidurnya. Ayahnya mengerti Euis yang sedang malas menyapa
pagi. Tapi ayahnya selalu bisa menjadi orang yang mampu membangkitkan pagi
layaknya mentari.
“Pernah kau berpikir kenapa awan gelap datang tiba – tiba dengan
waktu yang lama?” Tanya ayah.
Ekspresi muka Euis tampak kebingungan dan tertolehlah ayahnya agar
ia bisa mendapat jawaban.
“Awan gelap memang membawa suasana sendu, tapi pasti ia ingin disambut
seperti mentari pagi. Walaupun hanya setengah hari. Kamu selalu menyapa pagi
dan menyambutnya, bukan? Dan kamu orang yang paling bisa menghargai kedatangan
mentari pagi itu. Cukup sering, bahkan setiap hari. Lihat awan gelap itu, ia
datang dan berharap agar kamu menyapanya. Walaupun hanya sekedar melihat dan
tidak menikmatinya. Ia ingin diperlakukan sama seperti kau memperlakukan
mentari pagi. Tidak untuk setiap hari, hanya hari tertentu saja. Tapi hari ini,
ia datang dan berharap kamu menyapanya. Hargailah awan gelap itu datang seperti
kamu menghargai mentari pagi. Setidaknya, awan gelap itu sudah membuat kami
tidak kepanasan dan silau saat berbelanja di tempat yang sumpek dan sesak. Ayah
berterima kasih kepada awan gelap karena ingin singgah sekejap bahkan menetap.
Selamat menikmati sendu di pagi hari, Euis”. Ucap ayah sambil mengelus rambutku
yang masih kusut sambil membangunkan tubuhnya dari nyamannya kursi rotan dan
masuk ke dalam rumah dengan langkahnya yang kecil.
Aku tak habis
pikir, ayah bisa menjadi mentari pagi untukku sebagai gantinya pagi ini.
Kalimatnya seakan menamparku tanpa sentuhan. Ayah membuat pagi ini sedikit agak
terang. Laki – laki yang penuh dengan kelemah lembutannya itu sedang menjelma
mentari pagi untukku. Auranya mengantarkanku ikut duduk disebelahnya dan tak
sadarnya aku, ternyata sedari tadi aku sedang menikmati awan sendu abu – abu
yang membuatku masuk menerobos dinding cakrawala. Cukup lama aku menatapi awan
gelap tanpa aku menyadarinya. Biasanya, aku akan merasakan perasaan yang sama
setiap harinya ketika melihat mentari pagi tengah menunjukkan dirinya dihadapan
khalayak bumi. Namun, yang kini aku rasakan adalah sesuatu yang berbeda. Rasa
ini baru pertama kali aku rasakan setelah awan gelap datang lebih dari 100 kali
seumur hidupku. Sejak kecil, aku memang tidak pernah menyapa pagi jika awan
gelap merebut posisi mentari. Tapi untu hari ini – pagi ini, untuk pertama
kalinya aku benar – benar menikmati awan gelap yang sedari tadi mencuri
perhatianku lewat ayah. Ah, benar saja. Aku terlalu perfeksionis untuk
memanjakan mata di pagi hari. Aku terlalu menginginkan kebahagiaan datang di
pagi hari. Namun sayangnya, kodrat hidup tak menerus soal keabahagiaan. Kadang
kala kita harus istirahat sejekah dari kebehagiaan untuk memompa diri dalam
kesedihan. Setidaknya, sesekali kita belajar tentang makna hidup dibalik
kesedihan.
Apa yang paling
ditakuti dalam kehidupan?
Kebanyakan orang
akan menjawab ‘kesedihan’. Karena kebahagiaan sudah mereka lalui dan benar –
benar dinikmati hingga lupa akan ada kesedihan yang terselip dari kata
‘kebahagiaan’ itu. Hidup tak melulu soal rasa bahagia. Jika rasa bahagia itu
dipaksa hadir untuk selamanya, manusia tak akan pernah mengenal rasa menghargai
arti hidup dibalik kesedihan – manusia tak akan mempunyai mental yang kuat dari
yang diberikan oleh kesedihan – manusia tak akan mempunyai rasa sabar yang
teramat dalam – tak akan mengenal orang yang sesungguhnya setia ada untuk kita
dikala susah dan sedih – ak akan ada kata perjuangan dalam hidup. Jika bahagia
dipaksa untuk menyelimuti hati ini, yakinlah hati ini hanya sebatas organ dalam
tubuh yang fungsinya hanya sebagi formalitas dalam struktur tubuh manusia.
Pagi ini sungguh
berbeda bagi Euis. Pandangannya justru masih tertuju pada awan gelap yang
tadinya tak cocok dimatanya. Ia terkesipu pada makna dibalik pikirannya yang
telah mengudara jauh. Matanya setia menatap langit yang tak kunjung menurunkan
hujan. Suasana adem yang ia rasakan pagi ini di teras rumah cukup membuatnya
tenang. “Terima kasih ayah, telah menghipnotisku melalui awan gelap ini. Cara
ayah menjadi pagi dihidupku sangat sempurna. Seakan ayah sedang menjelma
menjadi mentari pagi yang saat ini sedang bersembunyi dibalik awan gelap. Lalu
ayah menampakan wujudnya sebagai sosok yang sempurna dalam hatiku. Sama
sempurnanya dengan mentari pagi yang sellau aku lihat dan kagumi. Ayah
membuatku tenggelam dalam kalimatnya. Sekana menamparku tanpa sentuhan.
Membuatku sadar dan berpikir dari sisi yang berbeda. Sisi dimana aku enggan
melihatnya. Tapi kali ini, kau coba buka penglihatanku untuk melihat sisi ini”.
Kata Euis dalam hati dengan mata yang berkaca – kaca.
Jam menunjukkan
pukul 9 pagi. Awan gelap perlahan pergi tanpa berpamitan dengan penghuni bumi,
termasuk Euis. Ia tak sadar awan gelap itu berjalan perlahan lalu hilang tanpa
jejak. Seketika langit cerah dan menampakan matahari yang sedari tadi lamanya
bersembunyi dibalik awan gelap. Suasana sudah tidak adem seperti beberapa menit
sebelumnya. Terik sudah terasa diluar. Silau – silau cahaya sudah menghiasi
dapur yang beratap genteng dengan beberapa lubang kecil tempat masuknya cahaya.
Euis lari dari dapur menuju teras depan dan ia tak melihat awan gelap lagi
diatas. Ia tak berkata dan hanya termenung diam sambil berdiri menatap langit
yang sudah membiru dan cerah serta awan – awan putih menggupal disana. Ia berterima
kasih dalam hati kepada awan gelap, dan merasa menjadi orang yang bodoh dengan
sikapnya yang tak pernah menyambut pagi jika awan gelap yang menghampiri.
“Aku tak pernah menyambutmu. Bahkan saat kau pergi, aku tak
melihatmu berjalan. Bahkan mengucapkan ‘selamat tinggal…’ pun tak sempat”
~the end~


Komentar
Posting Komentar